Penarapan Inovasi Teknologi Pengembangan Bawang Merah di Kabupaten Maluku Barat Daya (Lakor).

Maluku Barat Daya (MBD) merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Maluku yang dikenal dengan beberapa sumberdaya Genetik seperti Kerbau Moa, Kambing Lakor dan Komunitas Pertanian Lokal seperti Bawang Merah Lakor. Di Pulau Lakor tidak ditemukan tanah sebagai media tanam. Untuk melakukan budidaya, masyarakat setempat memperoleh tanah dari hutan yang kemungkinan merupakan hasil pelapukan daun yang menjadi kompos. Tanah tesebut dibawa ke desa untuk bercocok tanam sebab wilayah lakor lebih didominasi bebatuan karang.

Budidaya bawang merah di Pulau Lakor telah dilakukan puluhan tahun oleh masyarakat setempat. Budidaya yang dilakukan berdasarkan pengalaman petani yang belum tersentuh oleh teknologi  budidaya seperti manajemen penggunaan pupuk  dan pengendalian hama penyakit secara rutin. Kebiasaan petani melakukan budidaya bawang merah yaitu dengan membakar tanah kemudian dibolak – balikkan sebelum dilakukan penanaman. Tanah yang diperoleh dari hutan diletakkan diatas wadah tanam (batu yang diratakan). Kebiasaan lainnya adalah penggunaan pupuk kandang ( kotoran kambing) tanpa fermentasi. Namun sebagian menggunakan kotoran kuda yang diambil dalam kondisi kering. Selain masalah budidaya, petani bawang merah melakukan penanaman 1 kali musim tanam dalam satu tahun ( bulan Juli – September).

Atas inisiatif Badan Litbang Daerah kabupaten MBD bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku, petani bawang merah di Pulau Lakor mulai dikenalkan dengan pemanfaatan kompos dari daun busuk dan penggunaan pupuk kandang yang  baik ( telah terfermentasi ) serta pengendalian hama penyakit menggunakan bahan – bahan nabati dan alat – alat sederhana seperti : penggunaan perangkap, dan pesitisida dari tumbuhan ( buah maja, daun babadotan, mengkudu dll).

Dengan adanya kerjasama antara  Balitbangda Kab. MBD  dengan BPTP Maluku yang diwakili oleh Dr. Ismatul Hidayah, SP. MP dan Risma Fira Suneth, SP, dilakukan budidaya bawang merah diluar musim (off season) dengan beberapa perlakuan dosis pemupukan pupuk kandang dan penerapan jarak tanam. Hal ini dilakukan agar musim tanam bawang merah di pulau lakor dapat dilakukan 2 kali dalam satu tahun. Hasil dari kegiatan budidaya bawang merah off season menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan bawang merah yang cukup baik dan jumlah anakan yang cukup banyak dibanding dengan hasil petani. Hasil dari kegiatan budidaya bawang merah off season pada musim hujan dan iklim yang cukup ekstrim, budidaya bawang merah masih dapat dilakukan. Selain itu, hasil berupa jumlah anakan antara 4 – 12 per rumpun. Sementara secara eksisting jumlah anakan hanya 4 -6 per rumpun.