KAJIAN INOVASI TEKNOLOGI PENGEMBANGAN KEBUN BENIH INDUK KELAPA DI MALUKU “tahapan perbenihan”

Potensi lahan perkebunan aktual di Maluku seluas 183.298 ha,  berdasarkan peta agro-ekosistem zone (AEZ), potensi lahan untuk usaha pekebunan di Maluku seluas  1.263.575,4 ha.  potensi pengembangan secara ekstensifikasi seluas 1.180.277 ha (85 %). Komoditas perkebunan terluas di Maluku adalah kelapa 97.928 ha (53 %), cengkeh 41.777 ha (23 %) dan kakao 17.690 ha  (10 %) menyusul pala 15.312 ha (8 %), jambu mete  6.494 ha (4 %) dan kopi 4.097 ha (2 %).  Tanaman kelapa merupakan komoditas unggulan daerah Maluku yang umumnya dalam bentuk perkebunan rakyat.dengan total produksi kelapa di Maluku masih sekitar 0,67 t/ha dan masih tergolong rendah, sedangkan potensi hasil bisa dicapai 3,0 t/ha.

Secara nasional proporsi tanaman tua yang sudah berumur lebih dari 50 tahun saat ini mencapai 20% dari total areal kelapa seluas 3.7 juta ha atau setara 740.000 ha yang perlu diremajakan. Jika pertambahan areal selama 10 tahun terakhir sekitar 0.9 persen tetap berlanjut dan setiap tahun dilakukan peremajaan 7.5 persen dari total tanaman tua maka kebutuhan benih per tahun mencapai 17.832.000 butir (200 butir benih/ha) untuk luasan 89.160 hektar. Kebutuhan benih sebanyak itu memerlukan sedikitnya 2000-2500 hektar kebun induk benih. Akibat trauma petani terhadap kelapa hibrida impor jenis PB-121 yang ditanam tahun delapan puluhan, maka kebutuhan benih kelapa hibrida saat ini hanya berkisar 5-10 persen atau 890.000-1.700.000 butir, dan sisanya 16 juta butir berupa benih kelapa Dalam.

Keberhasilan pembangunan perkelapaan di Indonesia salah satunya ditentukan oleh kualitas benih dan varietas yang digunakan. Usaha untuk peningkatan produktivitas dipengaruhi oleh keberhasilan dalam memperbaiki potensi genetik varietas tanaman. Permintaan benih yang dimanfaatkan petani adalah kelapa Dalam karena tidak memerlukan perawatan intensif serta lebih tahan terhadap kekeringan dan serangan penyakit busuk pucuk dibandingkan kelapa Hibrida.  Benih yang tersedia selama ini diambil dari kebun petani sendiri, sedangkan proyek-proyek perluasan dan peremajaan oleh pemerintah dari Blok Penghasil Tinggi (BPT), sehingga penampilan dan mutu tanaman sangat beragam karena tidak diseleksi dengan baik. Salah satu sumber benih adalah jenis-jenis kelapa Dalam unggul seperti Dalam Tenga (DTA), Dalam Mapanget (DMT), Dalam Palu (DPU), dan Dalam Bali (DBI) yang telah  direkomendasikan oleh Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Badan Litbang Pertanian karena telah dilepas secara nasional melalui SK Mentan, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan karena kebun benih yang tersedia terbatas.

Produktivitas kelapa rakyat berkisar antara 2,6 – 3,5 ton kopra/ha/tahun, dibandingkan dengan produktivitas nasional 11 ton kopra/ha/tahun. Selain itu, tujuh varietas kelapa genjah yang telah dirilis oleh Balitpalma adalah Genjah Kuning Nias (GKN), Genjah Hijau Salak (GHS), Genjah Kuning Bali (GKB), Genjah Raja Coklat (GRC), Genjah Kebumen Entog (GKE) dan Genjah Pandan Wangi (GPW).  Potensi produksi jenis-jenis ini sekitar 60-150 buah/pohon/tahun. Dalam menunjang program pemerintah daerah di Maluku, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku akan mengkaji pengembangan kebun benih induk kelapa dalam upaya meningkatkan ketersediaan benih kelapa unggul serta peningkatan produktivitas kelapa di Maluku.

Dalam pengembangannya, areal kelapa akan diterapkan kegiatan dalam rangka menunjang peningkatan produktivitas dan berkelanjutan. Jenis-jenis kelapa unggul adalah varietas yang dihasilkan melalui persilangan alami secara acak dari beberapa varietas unggul yang menyerbuk silang.  Generasi pertama dari penyerbukan silang alami beberapa varietas menghasilkan Hibrida intervarietas (Kelapa Dalam Komposit) baik Hibrida intervarietas tunggal ataupun ganda.  Pada tanaman yang menyerbuk silang seperti kelapa, karakter yang ditampilkan pada Hibrida dikontrol oleh aksi gen dominan sehingga besarnya heterosis sangat ditentukan oleh jarak genetik kedua tetuanya.  Persilangan tetua jantan kelapa Dalam Tenga dan tetua betina kelapa Genjah Kuning Nias akan menghasilkan kelapa Hibrida unggul.  Hasil kajian ini diharapkan pada tahun 2020 telah tersedia kebun induk dan tahun 2025 mulai diproduksi benih unggul.  Koordinasi dengan Balai Penelitian Tanaman Palma di Manado telah dilakukan sekaligus menentukan jenis varietas unggul kelapa untuk dikaji dan  dikembangkan sebagai kebun benih.  Tahapan persemaian benih kelapa telah dilakukan di IP2TP Makariki (Kebun Percobaan Makariki), BPTP Maluku.