Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Kisah Sukses KRPL Desa Soahuku (KOMIK)

Dinamika OPT di Maluku

No images

Highlight

banner9
banner7
banner

Digital Online

Statistik

Anggota : 2
Konten : 295
Jumlah Kunjungan Konten : 248681

Kalender Kegiatan

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday249
mod_vvisit_counterYesterday420
mod_vvisit_counterThis week1484
mod_vvisit_counterThis month8391
mod_vvisit_counterAll19315
Peluang Besar dari Bisnis Kedelai PDF Cetak E-mail
Oleh Sheny Kaihatu   
Minggu, 05 Februari 2012 00:00
Membajirnya impor kedelai (Glycine max L, Merr) untuk konsumsi maupun sebagai bahan baku industri di Indonesia membuktikan bahwa komoditas ini belum bisa terpenuhi hanya dari dalam negeri. Hal ini membuka peluang besar bagi pelaku agribisnis untuk dapat memanfaatkan potensi kedelai.

Lahan di Indonesia termasuk lahan-lahan yang subur, namun belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Ini terlihat dengan keinginan petani Indonesia yang berlomba-lomba menanam padi, jagung, dan ubi jalar namun kondisi perekonomian mereka tidak menunjukan perbaikan kesejahteraan yang berarti. Hal ini diakibatkan karena produk pertanian dihargai dengan sangat murah karena penerapan politik harga pangan murah. Inilah yang mendorong petani Indonesia memilih menanam tanaman pangan, padahal bisnis tanaman hortikultura atau sayuran sebenarnya lebih menguntungkan.

Salah satu jenis komoditi yang bisa dibudidayakan secara komersial adalah kedelai. Biji kedelai mengandung protein yang cukup tinggi (40%) mempunyai beragam manfaat, baik untuk keperluan industri (besar dan rumahtangga), pangan maupun untuk pakan ternak. Karena pemanfaatan yang beragam menyebabkan permintaan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun, dan belum semua kebutuhan dapat terpenuhi dengan produksi dari dalam negeri, akibatnya impor kedelai cenderung meningkat.

Berdasarkan jumlah permintaan dan volume impor yang cukup tinggi yang akan meningkat terus-menerus, sebenarnya akan membawa keuntungan bagi petani atau siapapun yang berminat untuk mengembangkan kedelai. Namun, untuk dapat membudidayakan komoditas ini harus tetap memperhatikan factor-faktor tertentu agar produksinya benar-benar memenuhi syarat secara ekonomi.

Penyebab rendahnya hasil kedelai yang biasanya dibudidayakan petani di lahan sawah adalah masa tanam dalam satu hamparan ditanam serempak. Kemudian benih yang digunakan bermutu rendah, populasi tanaman dipanen rendah, penyiapan system/saluran drainase tidak memadai, pengendalian gulma sering terlambat, dan pengendalian hama belum efektif. Sedangkan menurut Adisarwanto, dkk (1992) mengatakan bahwa produktivitas yang tinggi akan dapat dicapai dengan penanaman varietas unggul disertai pengelolaan lingkungan fisik dan hayati serta memanfaatkan teknologi inovatif yang sesuai dengan lingkungan. Untuk dapat mencapai hasil tersebut diperlukan rakitan varietas unggul adaptif dan rakitan teknologi yang spesifik lokasi dengan memperhatikan kesesuaian terhadap kondisi biofisik lahan, social ekonomi masyarakat serta kelembagaan petani. Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi kunci yang secara intensif terus dikaji dan dikembangkan.

Beberapa varietas yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian adalah varietas kedelai berbiji besar seperti Agromulyo, Bromo, dan Burangrang, sedangkan kedelai berbiji sedang adalah Sinabung dan Kaba. Sinabung umur 86 sampai 90 hari dengan produktivitas 1,8 ton sampai 2,3 ton/ha. Varietas kaba yang memiliki umur 86 sampai 90 hari dengan produktivitas 1,8 ton sampai 2,3 ton/ ha. Kedua varietas ini agak tahan karat daun, tahan rebah, polong tidak mudah pecah, warnanya kuning serta daerah adaptasinya adalah lahan sawah. Varietas tenggamus umur 86 sampai 90 hari dengah produktivitas 1 sampai 2 ton/ha yang tahan rebah, moderat karat daun, polong tidak mudah pecah, warnah kuning serta adaptasinya adalah lahan kering masam.

Kedelai dapat ditanam di lahan sawah maupun dilahan tegalan (lahan kring). Biasanya budidaya dilakukan secara rotasi dengan tanaman padi, yaitu setelah padi dipanen, baru lahan itu ditanami kedelai. Pola tanam yang biasa digunakan adalah padi-padi-kedelai atau padi-kedelai-padi.

Saat ini luas tanaman kedelai dilahan sawah mencapai 65 % dari luas total kedelai di Indonesia. Keuntungan menanam kedelai setelah bertanam padi adalah produktivitas hasil per satuan luas di lahan sawah lebih tinggi dibandingkan dengan di lahan tegal, teknologi budidaya kedelai di lahan sawah dapat dilakukan dengan hemat input, dan sebagian besar lahan sawah berada di Jawa sehingga lebih dekat dengan pusat konsumen. Menurut peneliti Balitkabi, Dr. T Adisarwanto, bertanam kedelai di lahan basah dapat meningkatkan produktivitas dari 2 ton/ha menjadi 4 ton/ha. Untuk membudidayakan kedelai, perlu dibuat bedengan dengan lebar dua meter dan ketinggian 15 cm sampai 25 cm. Panjang saluran bergantung dari lahan milik petani.

Pemupukan dan pengendalian hama terpadu juga harus dilakukan secara teliti dan saksama sehingga diperoleh hasil yang bagus.  
LAST_UPDATED2
 

Helena Tarumaselly

Joomla Templates by JoomlaVision.com