Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Kisah Sukses KRPL Desa Soahuku (KOMIK)

Dinamika OPT di Maluku

No images

Highlight

banner9
banner7
banner

Digital Online

Statistik

Anggota : 2
Konten : 276
Jumlah Kunjungan Konten : 236229

Kalender Kegiatan

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday160
mod_vvisit_counterYesterday175
mod_vvisit_counterThis week737
mod_vvisit_counterThis month4098
mod_vvisit_counterAll8150
Lahan Sub-Optimal di Dataran Waeapo, Kabupaten Buru Mampu Menghasilkan Produktivitas Padi Sampai 8,37 t GKP/ha Melalui Pemberian Pupuk Organik dan Penggunaan Varietas Inpara PDF Cetak E-mail
Oleh MP. Sirappa   
Kamis, 26 Juli 2012 12:13
Lahan sub-optimal meliputi lahan rawa (lebak, pasang surut, gambut) dan lahan marjinal lainnya (lahan masam, lahan salin dan lahan berlereng) yang berpotensi dikelola untuk usahatani. Di dataran Waeapo, Kabupaten Buru, lahan sub-optimal untuk padi sawah berdasarkan peta sebaran satuan tanah yang disawahkan diperkirakan sekitar 5.791,31 ha yang tersebar pada berbagai fisiografi. Lahan sub-optimal yang dimanfaatkan untuk usaha pertanian di Indonesia baru sebagian kecil dan belum diusahakan secara optimal. Dengan menerapkan teknologi penataan lahan serta pengelolaan lahan dan komoditas pertanian secara terpadu, lahan sub-optimal dapat dijadikan sebagai salah satu andalan sumber pertumbuhan agribisnis dan pendukung ketahanan pangan nasional.

Pengembangan lahan sub-optimal untuk usaha pertanian umumnya dihadapkan dengan beberapa persoalan, diantaranya kemasaman tanah yang tinggi dan keracunan Fe dan Al serta kahat unsur hara N, P, K, Ca dan Mg. Oleh karena itu diperlukan perbaikan pada kondisi kimia lahan tersebut seperti penambahan bahan organik, pemupukan N, P, dan K serta pengapuran. Salah satu lahan sub-optimal yang cukup potensial untuk pertanian adalah lahan rawa, yaitu lahan dengan genangan air yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis. Lahan rawa di Indonesia seluas 20,15 juta dan 13,28 juta ha, masing-masing untuk lahan pasang surut dan lahan lebak.

Inovasi teknologi Litbang Pertanian melalui penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) merupakan suatu terobosan dalam upaya mengatasi masalah pelandaian produktivitas padi yang terjadi akhir-akhir ini. Ciherang, Cigeulis dan Mekongga merupakan tiga varietas yang banyak ditanam oleh petani di dataran Waeapo karena ketiga varietas tersebut memberikan hasil yang cukup tinggi dan tahan terhadap beberapa hama penting, termasuk penggunaannya pada lahan sub-optimal (lahan rawa) yang ada di kabupaten Buru. Meskipun hasil yang diperoleh petani pada lahan sub-optimal tergolong sangat rendah (1-2 t/ha), namun petani tetap melakukan usahataninya sebagai bagian dari kehidupannya. Pada tahun 2011, BPTP Maluku melalui kegiatan APBN TA. 2011 melakukan suatu kajian penggunaan pupuk organic dan varietas Inpara pada lahan bermasalah yang ada di dataran Waeapo, tepatnya di desa Debowae, kecamatan Waeapo, kabupaten Buru. Sebanyak 6 varietas Inpara (inhibrida padi rawa) yang diperoleh dari Balai Besar Penelitian Padi di Sukamandi dikaji untuk mengetahui adaptasinya dan potensi hasil yang bisa dicapai pada lahan sub-optimal tersebut. Perlakuan lain yang dikaji adalah penggunaan tiga jenis pupuk organic yang bersumber dari pupuk kandang, pupuk petroganik dan pupuk organic granul.

Sosialisasi yang dilakukan terhadap pemerintah setempat dan petani terkait dengan pengelolaan lahan sub-optimal melalui penggunaan pupuk organic dan varietas adaptif mendapat sambutan dan respon yang positif dan mereka berharap kegiatan ini dapat berlanjut dalam mengatasi permasalahan pada lahan sub-optimal di dataran Waeapo. Hal ini terkait dengan pertumbuhan varietas Inpara yang mereka lihat langsung di lapangan yang berbeda dengan pertumbuhan varietas Ciherang, Cigeulis dan Mekongga yang banyak ditanam oleh petani di sekitar lokasi kajian. Mereka berharap hasil kajian tersebut dapat digunakan lagi untuk lokasi lain yang ada di dataran Waeapo dalam upaya meningkatkan produktivitas padi pada lahan sub-optimal. Turut hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut antara lain Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buru yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Pertanian, Camat Waeapo, Kapolsek Waeapo, Kepala Desa Debowae dan Parbulu, Kepala BPP Savana Jaya, Koordinator Balai Benih, penyuluh lapangan, Ketua KTNA Kabupaten dan Ketua Kelompok Tani/Gapoktan.

Dari hasil kajian yang dilakukan di desa Debowae dengan melibatkan tiga petani kooperator menunjukkan bahwa penggunaan pupuk petroganik dengan dosis 1 ton/ha yang dikombinasikan dengan 200 kg urea/ha dan 300 kg NPK Phonska/ha rata-rata memberikan hasil gabah tertinggi (6,75 t GKP/ha), kemudian disusul oleh penggunaan pupuk organic granul (6,69 t GKP/ha) dan hasil terendah pada penggunaan pupuk kandang (6,58 t GKP/ha). Demikian juga penggunaan varietas yang adaptif untuk lahan sub-optimal (lahan rawa), seperti varietas Inpara memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan varietas yang selama ini banyak digunakan oleh petani. Produktivitas hasil ubinan tertinggi diperoleh pada varietas Inpara 4 (7,95 t GKP/ha), menyusul varietas Indragiri (7,75 t GKP/ha), Inpara 1 (7,44 t GKP/ha), dan Inpara 2 (7,10 t GKP/ha), sedangkan dua varietas lainnya, yaitu Inpara 3 dan Inpara 5 masing-masing hanya mampu memberikan hasil 4,87 t dan 4,92 t GKP/ha. Penggunaan varietas yang sesuai untuk lahan sub-optimal (lahan rawa) yang ada di dataran Waeapo ternyata mampu meningkatkan hasil jauh di atas rata-rata hasil yang dicapai selama ini, terutama bila dikominasikan dengan penggunaan pupuk secara berimbang (pupuk organic dan pupuk anorganik). Kombinasi penggunaan pupuk organic dan varietas Inpara mampu menghasilkan produktivitas padi sampai 8,37 t GKP/ha yaitu pupuk organic granul dngan varietas Inpara 4, sedangkan pupuk Petroganik dengan varietas Indagiri menghasilkan gabah sebesar 8,02 t GKP/ha.

Faktor lain yang turut berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas padi di lahan sub-optimal di dataran Waeapo tidak terlepas dari penerapan inovasi teknologi model PTT, yang meliputi penggunaan system tanam jajar legowo 4:1, pengelolaan air secara berselang (intermittent), serta pengendalian OPT. Melalui kegiatan ini petani pada lahan sub-optimal di desa Debowae sangat berterima kasih kepada BPTP Maluku yang telah memperkenalkan beberapa varietas Inpara untuk lahan-lahan yang bermasalah, seperti lahan rawa yang selama ini potensi hasilnya sangat rendah. Varietas Inpara ini tetap dikembangkan oleh petani, namun satu hal yang sangat disayangkan dengan adanya tambang emas yang terbuka secara umum di daerah sekitar areal persawahan di dataran Waeapo menyebabkan usahatani padi sawah sedikit mengalami hambatan terutama kelangkaan tenaga kerja karena banyak yang beralih profesi sebagai penambang emas yang lebih menggiurkan dibandingkan mereka sebagai buruh tani. Berharap petani di areal lokasi tambang emas punya pemikiran yang positif bahwa di balik profesi mereka sebagai buruh tani, ada banyak orang yang menaruh harapan dan menanti hasil jerih payah para petani.
LAST_UPDATED2
 

Helena Tarumaselly

Joomla Templates by JoomlaVision.com