Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Kisah Sukses KRPL Desa Soahuku (KOMIK)

Dinamika OPT di Maluku

No images

Highlight

banner9
banner7
banner

Digital Online

Statistik

Anggota : 2
Konten : 312
Jumlah Kunjungan Konten : 260345

Kalender Kegiatan

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday168
mod_vvisit_counterYesterday257
mod_vvisit_counterThis week1483
mod_vvisit_counterThis month5294
mod_vvisit_counterAll25619
Pengkajian Model Usahatani Terpadu Pada Lahan Kering PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Sabtu, 21 November 2009 05:51

Tiga agroekosistem utama penghasil padi yang masih dapat ditingkatkan produktivitasnya adalah lahan sawah, lahan rawa dan lahan kering, yang masing-masing memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang berbeda. Pada lahan sawah irigasi ini produktivitas padi dapat ditingkatkan dengan peningkatan IP dari IP 100 ke IP 200 atau dari IP 200 ke IP 300. Namun peningkatan ini bisa dilakukan jika air tersedia, baik dari air hujan maupun dari irigasi (Irianto et al., 2002).

Peluang berusahatani palawija di lahan sawah irigasi masih cukup terbuka, namun menurut Supandi (1988) minat petani terhadap penanaman palawija  masih kurang dibandingkan  dengan minat terhadap padi. Kepekaan komoditas terhadap status air yang berlebih bisa diatasi dengan pembuatan saluran drainase yang baik.

Pola tanam pada lahan sawah irigasi dengan jaminan ketersediaan air 7-9 bulan seperti di Maluku, diarahkan  untuk menanam padi sawah pada MH, kemudian padi sawah umur genjah dengan metode pengolahan cepat pada MK1, kemudian setelah itu ditanami palawija. Atau bisa juga diarahkan untuk menanam padi sawah – palawija – palawija (Rusastra, et al., 2004).

Terdapat 3 sentra produksi padi sawah irigasi di Provinsi Maluku dengan luas total sekitar 12.138 ha (Kairatu - SBB, Waiapu – Buru dan Pasahari – Seram Utara).  Model usahatani pada lahan sawah irigasi yang berbasis padi di Maluku saat ini hanya terpaku pada  penanaman padi yang dilakukan secara terus-menerus (padi – padi – bero). Komponen usahatani ini selalu melibatkan penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus yang berpotensi menurunkan produktivitas tanah. Model usahatani yang dilakukan petani tersebut tidak berubah sampai sekarang, karena tidak ada introduksi teknologi model usahatani yang lebih menguntungkan hasil kajian yang diperkenalkan kepada petani.

Kajian ini dilakukan secara multi years, luaran kajian pada Tahun I (2005) adalah terakitnya model usahatani terpadu yang lebih menguntungkan bagi petani, antara menanam padi dengan jagung, setelah padi pada MH (padi–padi–padi vs padi–padi- jagung vs  padi-jagung-jagung).

METODOLOGI

Lokasi pengkajian dilakukan pada lahan milik petani pada daerah sentra pengembangan padi sawah dan juga merupakan lahan sawah irigasi teknis di Desa Waegeren, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru. Lahan sawah irigasi teknis ini berada pada wilayah ZAE sub zona IV az, IV az.i dan IV bz.i (fisiografi dataran aluvial dan aluvial sungai; ketinggian  0 - 750 m dpl; lereng < 3 %).  Kajian dilakukan pada dua musim tanam yaitu MK 1 yang dimulai pada bulan Mei sampai  Agustus, dan MK 2 yang dimulai Bulan September sampai Desember/Januari.

Pada MH tidak dilakukan pengkajian namun dilakukan pengambilan data usahatani dan produksi padi sawah. Pola tanam yang diterapkan adalah (MK1 – MK2) : Padi – Padi; Padi – Jagung dan Jagung – Jagung.  Paket teknologi yang dikaji meliputi paket teknologi usahatani padi yang diadopsi dari Balitpa – Sukamandi dan jagung yang diadopsi dari Balitsereal – Maros.  Pada pertanaman padi diintroduksikan 5 varietas unggul padi yaitu Cigeulis, Cimelati, Lok Ulo, Fatmawati, dan IR32 (lokal) sedangkan pada pertanaman jagung diintroduksikan 2 varietas unggul jagung yaitu Hibrida BISI-2 dan Srikandi Kuning. Data-data yang dikumpulkan dalam kegiatan ini meliputi data agronomi/komponen hasil dan produktivitas, biaya dan tingkat harga dari tiap input dan hasil, penggunaan tenaga kerja dan pendapatan usahatani pada masing-masing usaha tani dan pada keseluruhan satu siklus pola tanam. Data agronomi dan produksi yang dikumpulkan dianalisis secara statistik, sedangkan pendapatan usahatani akan dievaluasi berdasarkan analisis finansial.

HASIL DAN  PEMBAHASAN Keragaan Usahatani Padi Sawah pada Musim Hujan  (Desember/Januari – April/Mei)

Hasil pengamatan terhadap keragaan usahatani padi sawah pada MH adalah sebagai berikut :1.  Penanaman padi pada musim hujan dimulai pada Bulan Januari/Februari dan panen pada bulan April/Mei. 2. Benih yang ditanam umumnya varietas Waeapo Buru yang sudah tidak murni lagi (ditandai oleh pertumbuhan yang tidak merata), Cisantana, Gilirang, dan IR64 yang didapat petani secara mandiri. 3. Umumnya pengolahan tanah dilakukan secara sempurna dengan hand traktor sistem borongan, sebagian kecil petani membajak tanah dengan kerbau dua kali bajak dan sekali garu. 4. Untuk menghemat tenaga kerja, kebanyakan petani menanam padi secara Tabela caplak (benih ditanam secara langsung dengan menggunakan jarak tanam seperti tanam pindah), dengan ebutuhan benih 75 – 100 kg/ha. 5. Pengairan lahan persawahan dilakukan secara teratur dan dikelola oleh kelompok pengairan (P3A). Khusus untuk dataran Waeapo – Buru, ketersediaan air pengairan pada MH mencukupi untuk semua areal persawahan. 6.   Petani belum terbiasa menggunakan pupuk kandang atau limbah pertanian lainnya untuk meningkatkan kesuburan tanah. Jerami sisa panen dikumpulkan dan dibakar diareal persawahan atau ditumpuk di pematang sawah sampai busuk, baru kemudian disebarkan secara tidak merata pada areal persawahan pada musim tanam berikutnya. 7. Pupuk anorganik yang digunakan belum berimbang yaitu menggunakan Urea antara 100-150 kg/ha, tanpa SP-36 kan KCl; atau 100-150 kg urea/ha, 50 kg SP-35 dan tanpa KCl. Pemberian pupuk dilakukan dengan sebar. 8. Pemberantasan hama dilakukan dengan penyemprotan menggunakan insektisida kimia, intensitasnya tergantung kepada serangan hama dan penyakit. Selain itu digunakan juga insektisida sebar (Furadan) dengan dosis 6 – 10 kg/ha. 9. Tanaman siap dipanen ditandai dengan bulir padi mulai mengeras dan menguning, daun padi juga mulai menguning.  Pemanenan dilakukan dengan sistem bawon menggunakan power threser.

 

LAST_UPDATED2
 

Helena Tarumaselly

Joomla Templates by JoomlaVision.com