• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • (0911) 322664

Temu Lapang dan Panen Bawang Merah di Dusun Taeno Kota Ambon

Pada Kamis (13/7) berlokasi di Dusun Taeno Rumah Tiga Ambon berlangsung Temu Lapang dan Panen Bawang Merah. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendampingan pengembangan kawasan hortikultura bawang merah yang dilakukan oleh BPTP Maluku di Kota Ambon. Luas lahan yang digunakan 0,03 Ha dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, sedangkan varietas yang digunakan adalah Bima Brebes. Kegiatan tersebut dibuka oleh Kabid Hortikultura Kota Ambon Elly Thoru beliau menyampaikan bahwa potensi di Dusun Taeno atas cukup besar dan memang masyarakat di Dusun Taeno hidup dari latar belakang pertanian, oleh karena itu tugas dan tanggung jawab Dinas Pertanian Kota, Dinas Pertanian Provinsi, BPTP Maluku, Balai Proteksi Tanaman, Petugas Pertanian dengan kerjasama dan partisipasi dengan para petani, agar dapat meningkatkan produksi sehingga pendapatan para petani akan meningkat. Dinas Pertanian Kota Ambon juga akan memberikan bibit bawang kembali pada tanggal 17 Juli 2017, penundaan pembagian bibit disebabkan oleh cuaca yang cukup ekstrim. Beliau juga menghimbau agar para petani menerima teknologi yang diberikan oleh BPTP Maluku, dan jangan kita kembali ke yang sebelumnya. Dijelaskan Beliau jika dulu dan sekarang berbeda, zaman dahulu tidak perlu lagi memakai obat, tetapi hal tersebut berbeda dengan zaman sekarang. Upaya teknologi tersebut untuk menghindar kegagalan, tuturnya.

Koordinator Program BPTP Maluku, Dr. Ismatul Hidayah, SP yang mewakili Kepala BPTP Maluku juga menyampaikan sambutannya. Dalam arahannya disampaikan BPTP Maluku siap mendampingi kegiatan Dinas Pertanian, tidak hanya sebatas pendampingan demplot BPTP saja, untuk itu agar diinformasikan kepada BPTP Maluku dimana lokasi untuk memulai tanam berikutnya selain di Dusun Taeno. Beliau juga menyampaikan ketika petani menanam jangan hanya memupuk pupuk dari bantuan saja,dimohon petani bisa swadaya  supaya hasilnya lebih maksimal dan produksinya lebih tinggi. Karena hasil dari produksi pun nantinya dinikmati oleh petani. Jika ditekuni apalagi di Dusun Taeno adalah daerah hortikultura (dataran agak tinggi) oleh karena itu akan cukup  menguntungkan menanam bawang merah, dan menghimbau agar peneliti Sosek BPTP Maluku membantu menghitung ketika petani berusahatani  khususnya pada saat teknologi di luar musim. Dr. Ismatul Hidayah pun berpesan apabila ada kendala jangan sungkan untuk menyampaikannya. Tegasnya.

IMG_20170713_121849_1.jpgIMG_20170713_110433.jpgIMG_20170713_111451.jpgIMG_20170713_104712_EDIT 5.jpgIMG_20170713_110433_EDIT 6.jpgIMG_20170713_104705_EDIT 4.jpgPanen bawang taeno.jpgIMG_20170713_111511_EDIT3.jpgIMG_20170713_103521_EDIT2.jpgIMG_20170713_103603_EDIT 3.jpgIMG_20170713_103854_EDIT5.jpgIMG_20170713_103547_EDIT.jpgIMG_20170713_103401_EDIT2.jpgIMG_20170713_103320_EDIT 1.jpgIMG_20170713_103901_EDIT4.jpg

Rangkaian acara selanjutnya yaitu diskusi dan FGD. Hasil dari diskusi dengan petani, didapat beberapa kendala antara yang ditemukan di lapangan, antara lain: 1). Cuaca yang cukup ektrem di Kota Ambon, 2). Penyakit Layu Fusarium masih tetap ada dan sangat merugikan,3). Kemampuan terbatas jika menggunakan  pupuk organik, 4). Bibit bawang disimpan petani diatas loteng/genteng/karung padahal seharusnya digantung saja atau disimpan ditempat terbuka yang tidak langsung terpapar cahaya matahari.

Acara terakhir yaitu panen dan penimbangan, hasil panen bawang merah setelah ditimbang adalah 4,17 ton/ha atau senilai 125 kg. Hasil ini masih cukup jauh dari potensi hasil dari varietas bima brebes. Hal ini disebabkan curah hujan yang tinggi sehingga terjadi serangan organisme penganggu tanaman (OPT) seperti layu fusarium, dan lalat grayak pada bawang merah. Serangan organisme penggangu ini disebabkan bibit-bibit dari layu fusarium yang masih terbawa dari sebelumnya, serta kurang optimal POPT di lokasi demplot BPTP Maluku sehingga petani tidak mengetahui gejala-gejala awal serangan agar dapat melakukan penanganan dan pengendalian awal. TNA