• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • (0911) 322664

Temu Lapang Guna Peningkatan Produktivitas dan Panen PKAH Cabai di Desa Huameteno Maluku Tengah

Pada Rabu (6/9) berlokasi di Desa Huameteno Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah berlangsung Temu Lapang dan Panen Perdana cabai. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendampingan pengembangan kawasan hortikultura cabai yang dilakukan oleh BPTP Maluku di Maluku Tengah. Luas lahan yang digunakan 1750 m2 atau setara dengan 0,175 Ha dengan jarak tanam 60 cm x 70 cm, sedangkan varietas yang digunakan adalah Dewata F1-43 dan Cakra Putih Lokal. Pemupukan menggunakan pupuk kandang (organik) dilanjutkan pemupukan susulan setelah tanaman berumur dua minggu dengan pupuk anorganik NPK Phonska dan SP-36. Acara Temu Lapang dan Panen dihadiri oleh Kabid Hortikultura Maluku Tengah, Arsyad Slamat, SP,  Koordinator Program BPTP Maluku, Dr. Ismatul Hidayah, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Amahai, Ahmad Selano, Kepala Dusun Huameteno, Husein, Kelompok Tani Fajar yang berjumlah 20 orang dan perwakilan Kelompok Tani se-wilayah Desa Huameteno. Kegiatan tersebut dibuka oleh Kabid Hortikultura Maluku Tengah, Arsyad Slamat, SP, beliau menyampaikan bahwa cabai rawit merah itu walaupun kecil namun sangat berpengaruh pada kondisi negara karena bisa menyebabkan inflasi, dan membuat negara goyang. Dilema yang sering terjadi yaitu apabila panen raya harga akan turun dan jatuh, untuk kita ketahui Kabupaten Maluku Tengah dari tahun ke tahun selalu memproduksi cabai yang dibutuhkan masyarakat di Kota Ambon, dan pada awal tahun yang lalu juga sempat eksport ke luar Maluku, yaitu ke DKI Jakarta. Tuturnya. Beliau menyemangati dan mendorong Kelompok Tani di wilayah Huameteno agar mengadopsi atau menerapkan teknologi yang sudah diberikan oleh BPTP Maluku, dan apabila petani ingin maju dan hasil tanamnya melimpah diharapkan menerapkan teknologi tersebut. Beliau menambahkan juga bahwa Kabupaten Maluku Tengah dialokasikan dana dari APBN bahwa Cabai rawit merah memperoleh 40 hektare, dibagi ketiga kecamatan, yaitu Kecamatan Kota Masohi, Kecamatan Amahai dan Kecamatan TNS. Oleh karena itu apabila terdapat kendala atau kekurangan disini diharap disampaikan kepada kami. Tutupnya.

Koordinator Program BPTP Maluku, Dr. Ismatul Hidayah, SP yang mewakili Kepala BPTP Maluku juga menyampaikan sambutannya. Dalam arahannya disampaikan bahwa komoditas cabai yang mana merupakan komoditas yang strategis nasional, dikarenakan cabai salah satu komoditas yang dapat menyebabkan inflasi selain bawang merah dan jeruk, yaitu pada saat produksi sedikit otomatis harga akan naik, atau bisa juga disebabkan oleh kondisi cuaca yang kurang bagus. Maka dari itu peluang untuk para petani, Kelompok Tani Fajar dan Musafir untuk tetap menanam cabai sehingga produksi di Desa Huameteno Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah terus meningkat. Untuk diketahui bahwa Badan Litbang Pertanian sebagai penghasil inovasi, sedangkan BPTP selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk bertugas melakukan pendampingan dan mendiseminasikan teknologi. Bagian dari pendampingan tersebut dalam bentuk demplot, dalam hal ini demplot cabai. Beliau juga menyarankan agar varietas lokal yang sudah dimiliki petani, agar dilakukan prosedur untuk diresmikan menjadi varietas unggul lokal, karena selama ini kita sudah jarang lagi menemukan cabai yang seperti itu, yang sering kita lihat di pasar cabai dengan kulit yang tebal. Harapannya meskipun kegiatan pendampingan ini sudah selesai, diharapkan petani disini tetap menanam cabai, dan bersemangat menjalaninya. Terakhir Beliau menyampaikan apabila ada kendala ataupun ingin berkonsultasi terkait teknologi jangan sungkan untuk menyampaikannya.Tegasnya.

 

IMG_20170906_105353.jpgIMG_20170906_105519.jpgIMG_20170906_104524.jpgIMG_20170906_104757.jpgIMG_20170906_105144.jpgIMG_20170906_092912.jpgIMG_20170906_103407.jpgIMG_20170906_101611.jpgIMG_20170906_101630.jpgIMG_20170906_104331.jpgIMG_20170906_094550.jpgIMG_20170906_093040.jpgIMG_20170906_104338.jpgIMG_20170906_104438.jpgIMG_20170906_092700.jpgIMG_20170906_093100.jpg

Rangkaian acara selanjutnya Panen Perdana Cabai. Berdasarkan perhitungan ubinan hasil panen pertama mencapai 8,3 kwintal/hektare dan rata-rata produktivitas cabai berdasarkan data BPS di Maluku Tengah 2,1 ton/hektare dengan 7-10x panen pertahunnya. Setelah panen selesai dilanjutkan diskusi dengan petani. Hasil dari diskusi dengan petani, didapat kesimpulan antara lain: 1). Petani mengharapkan untuk ke depannya ada pendampingan yg lebih intensif dari pemerintah daerah dan BPTP, 2). Petani meminta support kepada pemerintah daerah, 3). Kendala di lapangan yaitu cuaca yang cukup ektrem di Masohi, 2). Penyakit Lalat Buah masih tetap ada 3). Kemampuan terbatas jika menggunakan sepenuhnya pupuk organik.

 

Terakhir Penanggung Jawab Kegiatan, Aksan Loou, SP, M.Si menambahkan bahwa teknologi yang disampaikan BPTP Maluku pada kegiatan PKAH cabai tersebut antara lain : 1). OTS (Olah Tanam Sempurna) dengan cara dipacu dan digaruk 2x, 2). Penggunaan MPHP (Mulsa Plastik Hitam Perak) pada bedengan tanaman cabai panjang 60 m dan lebar 1,20 m, 3). Penggunaan pupuk organik dan anorganik, 4). Penggunaan Feremon (perangkat lem kuning) yang diaplikasikan pada tanaman cabai di lapangan di umur 45 hari setelah tanam. Feremon ini merupakan salah satu cara pengendalian pada hama lalat buah. TNA