• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • (0911) 322664

Kompos dari Feses dan Urin Sapi

Seiring dengan isu produk hasil pertanian yang tercemari residu akibat penggunaan pupuk kimia, masyarakat mulai berpikir produk organik melalui back to nature dengan pengelolaan pertanian kembali ke jaman dahulu dimana menggunakan pupuk kompos. Salah satunya adalah dengan menggunakan pupuk kandang dari feses dan urin sapi. Kotoran ternak sapi dapat dijadikan bahan utama pembuatan kompos karena memiliki kandungan N, P dan K yang tinggi. Kotoran sapi merupakan sumber biomassa yang besar dimana potensi produksi kotoran seekor sapi dewasa sebesar 25 kg per hari. Kotoran (feses dan urin) sapi merupakan limbah yang terkenal mempunyai bau tidak sedap oleh karena jika terjadi kesalahan dalam mengelola limbah tersebut akan mengganggu lingkungan. Urin sapi mengandung N 1,4-2,2 %, P 0,6-0,7 %, dan K 1,6-2,1% lebih tinggi jika dibandingkan dengan feses sapi dengan kandungan N sebesar 0,4 %. Keunggulan lain pupuk cair juga lebih mudah dengan penggunaan yang lebih hemat jika dibandingkan dengan pupuk padat. Efektivitas penggunaan pupuk cair lebih baik jika dibandingkan dengan pupuk padat. Meskipun demikian, baik feses maupun urin sapi tersebut harus diolah agar tidak mengganggu lingkungan serta memberikan peningkatan nilai tambah bagi petani. Selain itu, dengan penggunaan kompos dapat menekan biaya untuk pupuk kimia dimana pada pemakaian yang berlebih cenderung merusak tanah, sulit ditemukan di pasaran, dengan harga yang semakin mahal.

 

kompos

 

Pengomposan merupakan proses dekomposisi atau penguraian yang dilakukan oleh dekomposer berupa bakteri, yeast dan jamur dari bahan organik. Secara alamiah bahan organik mampu melakukan proses dekomposisi dalam waktu yang lama. Untuk mempercepat proses dekomposisi limbah organik menjadi pupuk organik yang siap dimanfaatkan oleh tanaman, maka dilakukan proses penguraian oleh dekomposer. Manfaat penggunaan kompos terhadap tanah adalah memperkaya unsur hara dalam tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur, memperbaiki sifat kimiawi tanah sehingga unsur hara yang tersedia dalam tanah lebih mudah diserap oleh tanaman, memperbaiki tata air dan udara di dalam tanah sehingga suhu tanah akan lebih stabil, mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara sehingga tidak mudah larut oleh air hujan atau air pengairan. Faktor yang harus diperhatikan dalam proses dekomposisi adalah: tersedia karbon (C) sebagai sumber energi bagi mikroba pengurai dan akan diurai melalui proses oksidasi yang menghasilkan panas; tersedia Nitrogen (N) sebagai sumber protein bagi dekomposer untuk  tumbuh dan memperbanyak diri; 3).  Oksigen (O) sebagai bahan untuk mengoksidasi unsur karbon melalui proses dekomposisi; air (H2O) untuk menjamin proses dekomposisi berlangsung baik dan tidak menyebabkan suasana anaerob.

 

Pembuatan Kompos Feses Sapi

 

Alat dan bahan: Feses sapi 1 ton, urea 2 kg, serbuk gerjaji 5 kg, probiotik 1 kg, air secukupnya, Terpal, sekop, ember.

 

Metodologi:(1).  Kotoran sapi dikumpulkan dan ditaruh di atas terpal untuk memudahkan pengomposan; (2). Kotoran sapi tersebut dicampur dengan serbuk gergaji, urea, air dan dekomposer. Seluruh bahan dicampur dan diaduk merata; (3). Setelah dua minggu tumpukan dibalik merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Bibiarkan kompos tersebut selama seminggu dan dibalik setiap minggu; (4).  Pada minggu keempat kompos telah siap digunakan dengan ciri-ciri warna coklat kehitaman seperti warna tanah, tidak berbau,  bertekstur remah dan gembur; (5). Selanjutnya kompos siap untuk diaplikasikan pada lahan atau tanaman. Dapat juga dilakukan pengemasan untuk tujuan komersial.

 

Pembuatan Pupuk Cair Dari Urin  Sapi

 

Alat dan bahan: Urin sapi 1 drum besar, gula merah 1 kg, probiotik, Drum dan penutupnya,  ember, gayung, pengaduk.

 

Metodologi: (1).  Kumpulkan urin sapi dengan mengisikan ke dalam drum hingga penuh. Pastikan terpisah dari kotoran yang lain; (2). Aduk urin yang telah terisi di dalam drum. Setelah itu siapkan ember yang di dalamnya telah dicampur gula merah, mikroorganisme starter. Larutkan dengan air hingga merata; (3). Masukkan campuran tersebut ke dalam urin yang telah terisi drum, kemudian aduk secara merata. Setelah itu tutuplah rapat-rapat hingga tanpa ada udara yang dapat masuk atau keluar; (4).  Setelah 2 minggu, buka tutup drum tersebut. Lakukan pengadukan, setelah itu tutup kembali drum dan lakukan setiap minggu hingga minggu ke 4; (5).  Setelah fermentasi selama 4 minggu buka tutup drum tersebut. Kompos siap di gunakan dengan ciri-ciri tidak berbau dan warna cokelat. Sedangkan ciri-ciri fermentasi yang gagal adalah bau busuk menyengat; (6). Selanjutnya pupuk cair siap untuk diaplikasikan pada tanaman. Dapat juga dilakukan pengemasan menggunakan botol yang disertai label produsen untuk tujuan komersial lebih lanjut.