• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • (0911) 322664

KEUNGGULAN DAN MANFAAT “HOTONG” SDG SPESIFIK LOKASI MALUKU

Tanaman hotong (Setariaitalica (L) Beauv merupakan tanaman semusim. Tanaman ini tumbuh dalam bentuk rumpun dengan tinggi 60-150 cm. Di Maluku, tanaman tersebut ditanam dan dibudidayakan secara terbatas hanya di Pulau Buru, oleh karenanya, tanaman tersebut diberi nama“hotong buru”. Sedangkan di kabupaten lain seperti Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, kepulauan Aru, dan Maluku Barat Daya merupakan tumbuhan liar (belum dibudidaya).

Tanaman hotong Tidak memerlukan penanganan khusus sebagaimana padi, sehingga bisa ditanam di lahan kering, lahan tadah hujan atau pun lahan tandus, seperti daerah di NTT misalnya. Memang untukjenis-jenis tanah tertentu, seperti misalnya tanah berlempung tinggi, pengolahan tanah mutlak diperlukan sebelum penanaman.Tapi prinsip nyata naman Buru Hotong ini relatif tidak memerlukan banyak air, sehingga drainase air mutlak diperlukan supaya tidak terlalu banyak terendam air.

 

 

Umur panen hotong 75-90 hari setelah tanam, dan waktu penanaman terbaik pada bulan Juli hingga pertengahan Agustus di daerah beriklim tropis.  Jenis-jenis hotong yang banyak dibudidayakan adalah: Setariaitalica (L) Beauv.,Setariaitalica (Var.) Metzgeri, dan Setariaitalic (Var.) Stramiofructa. Tanaman hotong merupakan tanaman semusim. Batang tanaman hotong liat, semakin kering batang tanaman akan semakin berkurang sifat liatnya. Malai sebenarnya adalah lanjutan dari batang, hanya saja tumbuh cabang-cabang yang semakin ujung posisinya semakin kompak. Cabang terdiri dari koloni kulitari yang berisi biji hotong buru. Panjang malai hotong rata-rata 15.2 cm  dengan diameter 1.2 mm dan memiliki berat rata-rata 5.7 g per malai. Biji hotong buru memiliki ukuran panjang 1.7 mm, lebar 1.3 mm, dan ketebalan 1.1 mm.

Biji hotong diharapkan dapat dijadikan alternatif makanan pokok sumber karbohidrat non beras dengan tetap memperoleh protein dan lemak untuk mendukung upaya diversifikasi pangan. Hotong sebagai bahan baku pembuatan aneka kue (basah dan kering). Disamping itu, hotong dapat digunakan untuk diet, karena kandungan karbohidrat dan proteinnya cukup tinggi.

 

KANDUNGAN NUTRISI

Kandungan karbohidrat hotong memiliki kemiripan dengan kandungan karbohidrat pada beras di Indonesia, sedangkan kandungan proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan protein pada bahan pangan sumberkarbohidrat lainnya (beras, kentang).

Biji hotong memiliki kadar air 9.03%, kondisi yang memenuhi standar penyimpanan serealia. Namun dalam bentuk tepung, kadar airnya jauh lebih rendah (6.82%). Hal ini antara lain karena proses penepungan menimbulkan panas dan berdampak pada penurunaan kadar air. Kadar lemak hotong (3%) setara dengan sorgum (3%) dan lebih tinggi dibandingkan dengan kadar lemak beras dan gandum (1%). Sedangkan protein biji hotong (14%bk) maupun tepung hotong (13%bk) lebih tinggi dibandingkan dengan beras (6-10%bk), sorgum (8-10%bk) dan gandum (8-12%bk).

KEUNGGULAN

Umur tanaman hotong tergolong genjah (75-90 hari) dan memiliki daya simpan yang cukup lama (20 tahun). Sebagai sumber makanan non beras, tanaman spesifik Pulau Buru ini kaya akan karbohidrat yang mirip dengan beras namun kadar protein dan lemaknya lebih tinggi dari pada tanaman padi. 

Biji hotong mengandung komponen bioaktif yang mempunyai sifat antioksidan, antara lain tanin dan vitamin E. Tanin merupakan polifenol, salah satuan gizi yang terkandung di dalam bahan makanan. Dampak adanya tanin adalah terbentuknya senyawa kompleks dengan protein maupun karbohidrat sehingga cenderung menurunkan dayacerna protein maupun pati. Disisi lain,polifenol secara umum mempunyai kemampuan menangkap radikal bebas seperti peroksinitrit dan superoksida, sehingga berperan dalam menahan kerusakan sel dan jaringan oleh spesies nitrogen reaktif dan oksigen reaktif. Akibat kerusakan sel dan jaringan oleh radikal bebas tersebut antara lain timbulnya penyakit degeneratifseperti kanker, diabetes melitus dan penyakit kardiovaskuler. Peran vitamin E antara lain ialah sebagai antioksidan dan mencegah terjadinya peroksidasilipida.  Kandungan vitamin E pada biji dan tepung hotong berturut-turut sebesar 44.5 ppm dan 50.9 ppm, sedangkan kandungan tanin pada biji dan tepung hotong berurut-turut sebesar 0,22 % dan 0,06 %.

Dibandingkan dengan beras dan hermada, kandungan karbohidrat biji hotong (81,32 %) hampir sama dengan kandungan karbohidrat pada beras (70 – 80 %) maupun hermada (Sorghum bicolour(L.) Moench) (72 – 75 %).