• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • (0911) 322664

TEKNOLOGI PENGENDALIAN OPT RAMAH LINGKUNGAN DENGAN YELLOW STICKY TRAP

 

Cabai merah (Capsicum annum) merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan salah satu kendala yang dihadapi petani dalam usahatani Cabai. Untuk menyelamatkan tanamanya tidak jarang petani menerapkan berbagai teknologi budidaya yang sebetulnya tidak sesuai dengan ketentuan yang telah dianjurkan, misalnya dalam penggunaan pupuk, pestisida  dan bahan kimia lainnya.

Sebagai upaya dalam mengatasi masalah OPT tanaman Cabai, umumnya petani menekankan pada pengendalian secara kimiawi. Penggunaan pestisida  yang tidak sesuai dengan ketentuan yang dianjurkan, selain dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, penggunaan pestisida secara intensif juga menyebabkan biaya produksi tinggi.

Dalam pengembangan agribisnis sayuran, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) masih relatif terbatas pada sebagian kecil komoditas sayuran prioritas. Strategi PHT itu sendiri adalah memadukan secara kompatibel, semua teknik atau metode pengendalian hama yang didasarkan pada azas ekologi dan ekonomi. Diantaranya teknologi pengelolaan ekosistem yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan petani, mempertahankan populasi hama dalam keadaan keseimbangan dengan musuh alaminya sehingga tidak merugikan, serta mengurangi atau membatasi penggunaan pestisida. Dalam penerapannya, pendekatan ekologi lebih mendominasi dalam menentukan alternatif pengendalian OPT. Agar dapat memberikan keuntungan maksimal bagi petani, maka pendekatan ekonomi juga diperlukan untuk menentukan pemilihan suatu Teknologi. Pendekatan tersebut tidak bisa diterapkan secara parsial, karena ada  kemungkinan melalui pendekatan ekologi saja belum tentu  akan memberikan hasil yang sesuai dengan keuntungan ekonomi, demikian pula sebaliknya.

Pemantauan hama di pertanaman penting dilakukan untuk menentukan upaya preventif pengendalian hama, antara lain dengan menggunakan perangkap likat kuning (yellow sticky trap). Perangkap likat kuning merupakan pengendalian yang dirancang berdasarkan preferensi serangga terhadap suatu warna tertentu. Penggunaan perangkap likat kuning yang telah diolesi dengan perekat adalah suatu metode yang sederhana untuk mendeteksi kehadiran

hama tertentu pada tanaman. Metode ini juga sangat efektif untuk tujuan monitoring populasi hama. Serangga umumnya tertarik dengan cahaya, warna, aroma makanan atau bau tertentu, dimana warna yang disukai serangga biasanya warna-warna kontras seperti warna kuning cerah. Serangga mempunyai dua alat detector yang penerima rangsang cahaya yaitu mata tunggal (oseli) dan mata majemuk (omatidia). Mata serangga ini dibedakan berdasarkan jumlah lensa yang dipunyainya. Kalau mata tunggal mempunyai lensa kornea tunggal sedangkan mata majemuk mempunyai lensa kornea segi enam. Fungsi tiap mata inipun berbeda-beda, kalau mata tunggal berfungsi untuk membedakan intensitas cahaya yang diterima, sedangkan mata majemuk berfungsi sebagai pembentuk bayangan yang berupa mozaik. Dari penglihatan ini serangga bisa membedakan warna. Ada yang bisa membedakan warna biru dan kuning seperti lebah madu. Ada juga yang hanya bisa mengetahui warna kuning saja seperti kutu daun dan lalat pengorok daun. Ada juga yang tidak bisa membedakan warna apapun alias buta warna. Kemampuan membedakan warna pada serangga ini karena perbedaaan sel-sel retina mata pada serangga.

Membuat perangkap likat kuning (yellow sticky trap) sederhana dan Murah

Alat dan Bahan

1.    Map plastic bekas warna kuning

2.    Insect Gloou 88

3.    Tali raffia/paku

4.    Ajir

Cara membuat :

Map plastic warna kuning di potong/digunting 2-4 potong, kemudian buat lubang pada bagian atas kiri dan kanan dari map untuk dipasang tali raffia atau map langsung di paku saja pada ajir yang telah disediakan. Setelah itu map diolesi dengan perekat (insect gloou 88) ke seluruh permukaan map. Bila perekat sudah dioleskan merata pada map, perangkap likat kuning siap diaplikasikan dilapang/areal pertanaman cabai. Metode pemasangan perangkap likat kuning diikat pada ajir dengan ketinggian satu jengkal diatas tajuk tanaman, seiring tinggi tanaman perangkap likat kuning dinaikkan mengikuti tinggi tajuk tanaman supaya hasil bisa optimal, hal ini bertujuan supaya serangga hama langsung bisa melihat perangkap likat kuning diatas tajuk tanaman. Untuk areal tanaman cabai seluas 1000 m2 minimal di pasang perangkap likat kuning minimal sebanyak 10 buah dengan metode pemasangan zig-zag atau gigi gergaji. Ketika hama terperangkap telah memenuhi sebagian besar permukaan perangkap atau 15 hari setelah pemasangan, maka perlu dilakukan penggantian dengan perangkap yang baru, dengan cara melepas map dan menggantikannya dengan yang baru dan diolesi lem perekat begitu selanjutnya sampai dengan tanaman habis masa panennya.

Perangkap likat kuning mampu mengendalikan beberapa hama yang sering muncul di pertanaman, seperti lalat buah, wereng, aphids, thrips, kutu, ngengat, dan kepik serta semua golongan serangga yang tertarik dengan gelombang yang dipancarkan benda yang berwarna kuning. Dengan demikian Perangkap Likat Kuning (Yellow Sticky Trap) ini dapat dijadikan solusi untuk petani dalam pengendalian hama di lapangan.

 

By : Maryke J. Van Room