• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • (0911) 322664

Keragaan galur harapan kacang tanah di lahan kering Kabupaten Maluku Tengah

Kajian multilokasi beberapa galur kacang tanah bertujuan mendapatkan dua hingga tiga galur harapan (produktivitas lebih dari tiga ton per ha,. toleran kekeringan Deret Hari Kering lebih dari 15 persen) dan adaptif pada agroekosistem lahan kering Maluku. Lokasi: Iahan kering Desa Makariki, Maluku Tengah, 2010. Rancangan: Rancangan Acak Kelompok tiga ulangan. sepuIuh galur dan dua varietas kacang tanah yang ditanam: 8-4, 8-5, 8-8, 8-9, 8-10, 8-11, 8-15, 8-16, 8-19, 8-20, dan dua varietas pembanding,VUB singa dan Lokal Merah,36 petak percobaan. Luas petak 2,5 m x 3,5 m, jarak 40 cm x 15 cm, satu tanaman per lubang. Parameter: jumlah tanaman dipanen, 50 persen berbunga, tinggi tanaman saat panen, jumlah polong per tanaman, bobot polong basah per tanaman, bobot polong kering per tanaman, bobot polong kering per petak, bobot 100 biji, bobot biji kering. Hasil: semua galur harapan memiliki tanggapan berbeda terhadap kondisi lahan kering tempat tumbuhnya, varietas unggul singa berbobot polong basah, polong kering, dan bobot biji kering lebih tinggi di uji adaptasi Makariki, galur S-4 berbobot polong basah dibobot polong kering lebih tinggi, sedangkan galur S-5, S-11,. dan S-15 bobot biji kering lebih tinggi, namun tidak berbeda nyata dengan galur lain kecuali galur S-16 dan Lokal Merah·. Semua galur harapan kacang tanah yang ditanam di lahan kering Maluku Tengah dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik, ditunjukkan oleh berat 100 biji semua galur yang melebihi 35 g. (Study multiple strains or varieties of peanut aim to get two until three peanut promising lines (productivity larger three tons per ha of drought-tolerant series of Dry Days larger than 15 percent) and adaptive dryland agroecosystem in Maluku, performed in Central Maluku district Makariki 2010, using Randomized Block Design three replications. 10 strams planted include: S-4, S-5, S-8, S-9, S-10, S-11, S-15, S-16, S-19, S-20, and two varieties local Lions and Red as comparison. Wide swath of 2.5 m x 3.5 m, spacing of 40 cm x 15 cm, one seed per planting hole. Parameter: number of observations crop plants, 50 percent flowering, plant height, maturity, number of pods per plant, weight of wed pods per plant, dry weight of pods per plant, pod dry weight per plot, weight of 100 seeds (g) and dry seed weight (tons per ha). Results: strains or varieties S-4 gives a wet pod weigt and dry weight of pods per plant higher in amount of 62.2 g and 37.27 g where as strain S-5, S-11, and S-15 dry seed weight higher respectively by two tons per ha). AGROS (Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian (Science Journal Of Agricultural Science)), v. 15(1) 2013 p. 214-221

Adaptasi varietas unggul baru padi sawah Seram Timur mendukung ketahanan pangan wilayah

Penyebab utama rendahnya produktivitas padi di Maluku adalah tidak tersedianya varietas unggul spesifik lokasi. Untuk itu, perlu dikaji penggunaan varietas unggul baru yang adaptif di Seram Bagian Timur (SBT), Maluku dengan produktivitas tinggi, baik kualitas maupun kuantitas dan sesuai preferensi konsumen dalam mendukung ketahanan pangan Maluku telah dilakukan kajian adaptasi beberapa varietas unggul baru padi sawah irigasi desa Jakarta Baru, SBT tahun 2011 untuk mendapatkan dua hingga tiga varietas unggul berproduksi tinggi Rancangan Acak Kelompok digunakan dengan tiga ulangan dan lima perlakuan (Conde, Cibogo, Inpari 3, Inpari 6, dan Inpari 13). Sistem tanam yang digunakan adalah model legowo 4:1 dengan jarak tanam (20 cm x 10 cm) x 40 cm. Parameter yang diamati: tinggi tanaman saat menjelang panen, jumlah anakan produktif/rumpun, panjang malai Jumlah bulir per/malai, berat gabah total (g)/rumpun, dan hasil gabah kering panen per ha (ton per ha). Hasil: dari lima varietas unggul yang diuji, Inpari 13 memperlihatkan hasil lebih tinggi, berbeda nyata dengan varietas lainnya, varietas Conde. Dan daya hasilnya, kedua varietas (Inpari 13 dan Conde) berpeluang untuk dikembangkan di Kabupaten Seram Bagian Timur untuk mendukung ketahanan pangan wilayah Maluku (Main cause low productivity rice in Maluku is unavailability site-specific superior varieties. There is need to assess use new varieties that adaptive in East Seram District that having a high productivity and in accordance with preferences of consumers in order to support food security in region. An assessment conducted on several new varieties of paddy rice in irrigated paddy field in Jakarta Village, East Seram In 2011. Aim of assessment was to find out two or three high-producing varieties for district. Experiment arranged in Randomized Block Design with three replications and five treatments (varier of Conde, Cibogo, Inpari 3, 6 and 13). Cropping system used in trial was legowo mode of 4: 1 with plant spacing of (20 cm x 10 cm) x 40 cm. Parameters observed were plant height at harvest, number of productive tillers or clump, panicle length, number of grains per/panicle, total grain weight (g per clump), and dry grain yield (t per ha). Resufts showed that among five tested varieties, Inpari 13 significantly gave highest yield, followed by Conde variety, suggesting that both Inpari 13 and Conde varieties are promising varieties to be developed in East Seram District to support food security in the Maluku region). AGROS (Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian (Science Journal Of Agricultural Science)), v. 15(1) 2013 p. 160-165

Nasib pemupukan fosfat pada permukaan mineral ultisols yang disawahkan

Ultisols merupakan tanah yang terbentuk pada lingkungan pencucian basa-basa  intensif, reaksi tanah masam, dengan drainase tanah yang relatif baik sehmgga menyebabkan pH tanah masam dan meningkatkan kadar Al/Fe bebas, sehingga memperbesar bahaya toksisitas Al/Fe dan fiksasi fosfat. Penggenangan Ultisols untuk budidaya padi sawah dapat mengubah kesetimbangan perilaku muatan permukaan mineral-mineral tanah penyusunnya, terutama dalam hubungan dengan reaktivitasnya terhadap anion fosfat. Dari berbagai hasil penelitian, terbukti bahwa penggenangan Ultisols menyebabkan perubahan nilai potensial redoks (Eh) menjadi lebih kecil dan pH tanah mendekati netral, sehingga berdampak pada berubahnya kesetimbangan perilaku hara terutama AI, Fe, Mn; N, P, K, S, Zn, Cu,dan Si. Penggenangan dapat meningkatkan ketersediaan P dalam larutan tanah, akibat menutunnya fotensial redoks (Eh), meningkatnya pH tanah dan menurunnya reaktivitas gugus alummo dan ferol dari permukaan mineral Kaolinit, Gibsit, dan Goetit terhadap anion fosfat. Pemahaman mengenai nasib kimia permukaan Ultisols yang disawahkan ditinjau dari aspek mineralogi, karakteristik muatan permukaan, dan kesetimbangan kimia dalam larutan tanah .dapat dijadikan dasar dalam pengelolaan hara, terutama dalam rangka peningkatan efisiensi dan efektifitas pemupukan fosfat (Ultisols are soils formed in the intensive leaching of bases, acid soil reaction, with relatively good soil drainage causing of acid soil pH and increased levels of AI/Fe-jree, thus exacerbating the toxicity of AI/Fe and phosphate fixation. Ultisols flooding for rice cultivation can change the equilibrium behavior of the surface charge constituent soil minerals, particularly in relation to the reactivity of the phosphate anion. From various research results, it is evident that the flooding caused changes ultisols redox potential values (Eh) becomes smaller and the soi pH near neutral, so the impact on the change in equilibrium behavior of nutrients, especially AI, Fe, Mn, N, P, K, S, Zn, Cu, and Si. Flooding can increase the availability of P in soil solution, due to decreasing redox potential (Eh), soil pH increased and decrealed reactivity and ferol aluminol groups· of surface mineral Kaolinite, Gibsite and Goetite the phosphate anion. An understanding of the chance of the surface chemistry of the Ultisols flooded terms of aspects of mineralogy, surface charge characteristics, am! chemical equilibrium in soil solution can be used as a basis for nutrient management, especially in enhancing the efficiency and effectiveness of phosphate fertilizer). AGROS (Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian (Science Journal Of Agricultural Science)), v. 15(1) 2013 p. 62-81