Pengedalian Hayati Hama Penggerek Buah Kakao Conopomorpha cramerella Snellen (Lepidoptera: Gracillariidae) di Maluku

Conopomorpha cramerella Snellen (Lepidoptera:  Gracillariidae) atau hama penggerek buah kakao merupakan hama utama dan merugikan karena dapat menurunkan produksi lebih dari 80% dan telah tersebar luas di Indonesia.  Serangan hama PBK di Maluku semakin cepat dan meluas hampir di semua sentra produksi kakao dan telah menjadi ancaman terhadap kelestarian perkebunan kakao di Maluku.  Keberadaan hama PBK pada pertanaman kakao yang dikendalikan dengan insektisida konvensional (kimia) secara terus menerus tentunya akan berdampak buruk baik bagi manusia, serangga berguna maupun lingkungan, sehingga pengendalian hama ini membutuhkan tindakan bijak.  Alternatif pengendalian tersebut adalah penggunaan insektisida hayati (bioinsektisida) dan pembrongsongan buah kakao.

Kerusakan Buah Kakao Akibat Serangan Hama PBK

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku telah melakukan kajian penelitian terkait pengendalian hama penggerek buah kakao (PBK) melalui penggunaan insektisida hayati (bioinsektisida) Bacillus thuringiensis Batindo+1 WP, Dipel WP, dan Beauveria bassiana serta pembrongsongan buah kakao (menggunakan alat kokosliver).  Aplikasi bioinsektisida Batindo+1 WP dengan konsentrasi formulasi 2,5 g/l, 5 g/l, 7,5 g/l, dan 10 g/l, Dipel WP 2,5 g/l, dan B. bassiana 2,5 g/l serta sarungisasi buah dengan kantong plastik (ukuran 30 x 15 cm ; ketebalan 0,02 mm dan kedua ujungnya terbuka) yang menggunakan alat pembrongsongan buah (kokosliver).   Sasaran aplikasi adalah buah muda, dan aplikasi dilakukan tiga kali dengan interval 14 hari sejak terbentuknya ± 12 buah per pohon yang panjangnya 7 – 8 cm.

                        A                                                         B

Buah yang sehat (A) dan terserang hama PBK (B)

Aplikasi pengendalian hayati dengan bioinsektisida dan pengendalian mekanis dengan pembrongsongan buah kakao secara nyata menurunkan persentase serangan, intensitas serangan, kehilangan hasil, dan indeks populasi serta meningkatkan efikasi, hasil biji kakao kering, dan daya proteksi hasil akibat serangan hama PBK dibanding kontrol. 

Menurut peneliti BPTP Maluku (Dr. Ir. Rein E. Senewe, M.Sc), ternyata dengan melakukan pengendalian mekanis juga hasilnya sama efektif dengan pengendalian hayati serta berdasarkan juga hasil uji produk berbahan Bacillus thuringiensis (Bt) diperoleh perbandingan efikasi pengendalian mekanis 97,38%, sedangkan efikasi antara Batindo+1 WP, Dipel WP, dan B. bassiana pada konsentrasi 2,5 g/l relatif sama yakni 83,49%, 84,15%, dan 86,10%.  Keefektifan Batindo+1 WP tidak dipengaruhi oleh konsentrasi dan konsentrasi 2,5 g/l efektif untuk aplikasi komersial.  Implikasinya bahwa bioinsektisida Bt formula baru yakni Batindo+1 WP sebaik dengan formula Dipel WP dan formula B. bassiana yang sudah beredar lama di pasaran.  Pengendalian hama PBK secara hayati dan mekanis secara nyata dapat mengurangi kehilangan hasil biji kakao kering.  Hasil panen biji kakao kering pada perlakuan pembrongsongan buah 57,47%, sedangkan pada Batindo+1 WP, Dipel WP, dan B. bassiana pada konsentrasi 2,5 g/l berturut-turut 38,31%, 34,87%, dan 36,02% lebih tinggi daripada kontrol (2,61 kg/100 buah).

Hasil ini memberikan informasi tentang peluang penggunaan insektisida hayati (Batindo+1 WP) sebagai bioinsektisida untuk komersil dalam mengendalikan serta melindungi buah kakao akibat serangan hama PBK, dan juga penggunaan alat kokosliver yang membantu dalam pembrongsongan buah kakao sehingga terlindungi dari serangan hama PBK.  Dampak lain dari penelitian ini juga memberikan informasi dan rekomendasi tentang pentingnya waktu aplikasi bioinsektisida yang efektif pada saat buah–buah kakao muda ukuran 5 cm.  Kedua teknik pengendalian ini merupakan bagian dari teknik perlindungan tanaman alternatif untuk petani, serta bermanfaat sebagai bagian dari komponen pengendalian hama terpadu (PHT).