Bimtek Inovasi Teknologi Pertanian

Pelaksanaan Bimtek Inovasi Teknologi Pertanian merupakan salah satu Tupoksi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku dalam mempercepat hilirisasi inovasi teknologi ke masyarakat tani melalui kegiatan penyampaian hasil-hasil pengkajian, diskusi dan praktek. Kelompok tim kami melakukan koordinasi antar anggota dalam menggali potensi dan karakterisasi wilayah serta berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Maluku Tengah berserta Penyuluh Lapangan.
Desa Waraka menjadi pilihan lokasi untuk dilaksanakan Bimtek Inovasi Teknologi Pertanian. Desa Waraka terletak di Pulau Seram atau pada wilayah Kecamatan Teluk Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah merupakan penduduk lokal Maluku. Wilayah ini memiliki potensi Sagu, Kakao dan Jagung serta tanaman sayur-sayuran dengan wilayah majemuk yang memiliki 13 kelompok tani bidang pangan, perkebunan, ternak dan hortikultur. Wilayah ini juga terdapat pada daerah pesisir pantai, aliran sungai dan potensi lahan kering >500 ha yang berpotensi dalam pengembangan tanaman pangan dan perkebunan. Desa Waraka telah memiliki Bioindustri Sagu atau Sagu Waraka (SAWA) yang mengolah sagu basah dalam bentuk tumang sagu menjadi tepung sagu, mie sagu dan beras sagu yang sudah berkembang sejak 2018 sampai saat ini. Produk Sawa telah tersebar luas di wilayah Indonesia karena sudah melalui Online, serta tersebar di sejumlah swalayan di Malaku.
Dengan potensi sagu ini, tim kami berkoordinasi dengan Raja Waraka yang juga sebagai Kepala Pemerintahan Desa Waraka terkait kegiatan Bimtek. Hasil koordinasi ini kami memiliki masukan bahwa kegiatan Bimtek sangat dibutuhkan karena sampai dengan
saat ini Bimtek terkait pertanian di Desa Waraka sangat terbatas. Potensi wilayah pertanian dengan dukungan Raja atau Kepala Pemerintahan beserta Saniri Negeri membantu dalam mendorong keberlanjutan program kegiatan-kegiatan pertanian di Desa Waraka.


Topik Bimtek yang diangkat berdasarkan masukan dari penyuluh serta Raja Desa Waraka yaitu terkait komoditas yang sangat dibutuhkan meliputi Sagu, Kakao, Jagung,
Cabai dan Sayur-sayuran. Peserta Bimtek meliputi kelompok tani, penyuluh lapangan, tokoh agama, pemerintahan desa serta Saniri Negeri Waraka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, jumlah perserta 150 orang meskipun kapasitas gedung Desa Waraka dapat mencapai 300 orang.
Kegiatan Bimtek di Buka oleh Dr. Ir. Rein E. Senewe, M.Sc (Peneliti BPTP Maluku) yang mewakili Kepala BPTP Maluku. Sambutan selamat datang dari Raja Negeri Warakan serta arahan dari Koordinator BPP Kecamatan Teluk Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah.

Materi Bimtek meliputi :
 PENGELOLAAN SAGU
Materi ini di bawakan oleh Dr. Ir. Rein E. Senewe, M.Sc yang meliputi pengenalan sagu secara umum, aspek budidaya, pengenalan hama sagu serta terkait prospek pengembangan kelompok Sawa (sagu waraka) dalam proses pemasaran tepung, mie dan beras sagu).

Memberikan motivasi kepada para peserta yang hadir dalam upaya menjaga kelestarian sagu dengan memulai menanam dan memelihara sagu atau “kalesang akang itu sagu”. artinya dari skarang baik petani milenial sapai yang old (petani tua) harus menanam sagu. Melalui kesempatan ini kami beserta Raja Waraka memebuat komitmen bersama peserta yang hadir dengan slogan “SATU ANAKAN SAGU BETA TANAM” Dari Waraka Untuk Maluku dan Indonesia.

PENGELOLAAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO Conopomorpha cramerella

Materi ini di bawakan oleh Ir. Marietje Pesireron, MP bersama La Dahamarudin, SP.,M.Si. Jagung merupakan komoditas penting yang banyak di tanam petani Desa Waraka. Hasil panen jagung juga memilki kontribusi penting bagi kelompok SAWA dalam mengelola Beras Sagu. Jagung menjadi bahan campuran 20% dalam membuat beras sagu atau komposisi sagu 80% dan jagung
20%. Selain itu petani menanam jagung untuk konsumsi rumahtangga juga untuk pasar

Permasalahan Budidaya Jagung Pada Lahan Kering meliputi : Faktor Abiotis (Ketersediaan hara kurang, dengan urutan N>P>K, Cekaman air, Tanah
bereaksi masam dan keracunan Al, Kekurangan bahan organik). Faktor Biotis (Penyakit bulai, hawar daun, karat, dan busuk batang, Hama penggerek batang, lalat bibit, dan hama kumbang bubuk, Gulma). Teknik Budidaya (Teknik budidaya secara tradisional, Menanam varietas potensi hasil rendah, Populasi tanaman rendah, Takaran pupuk belum optimal). Sosial- Ekonomi dan Kelembagaan (Harga fluktuatif dan cenderung rendah, Sarana produksi (benih, pupuk, dan pestisida) mahal, Sulit mengakses permodalan, Kurangnya informasi ke petani dan Kelembagaan.

INOVASI TEKNOLOGI BUDIDAYA CABAI

Materi dibawakan oleh Ir. Marietje Pesireron, MP terkait budidaya, pemeliharaan dan panen cabai. Rendahnya produktivitas cabai di Maluku karena petani masih menggunakan teknik budidaya secara tradisional maupun konvensional namun masih menggunakan varietas yang asalan, dosis pupuk dan pestisida yang tidak seimbang serta iklim yang mempengaruhi musim tanam. Penerapan inovasi teknologi budidaya cabai yang disampaikan sekaligus memperkenalkan beberapa varietas unggul cabai yang akan diberikan bantuan.

PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN DENGAN MENANAM SAYURAN ORGANIK

Materi di sampaikan oleh Ir. Marietje Pesireron, MP terkait menggerekkan ibu-ibu PKK serta masyarakat tani Desa Waraka dalam mengelola pekarangan dengan tanaman sayuran. Akibat pandemi covid 19 membuat aktivitas lebih banyak dirumah maka salah satu alternatif dengan menanam tanaman sayuran di pekarangan. Hasil panen sayuran, disamping untuk memenuhi kebutuhan keluarga tetapi lebihnya untuk di pasarkan

Disamping itu, untuk menunjang pertumbuhan tanaman sayuran, narasumber memberikan inovasi teknologi terkait pembuatan pupuk organik (MOL) yang dengan sederhana bahan-bahan dapat disiapkan petani. MOL (Mikroorganisme Lokal) merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk dimanfaatkan menjadi pupuk sehingga tidak merusak lingkungan. MOL ini sangat banyak sekali manfaatnya, karena sangat berperan penting dalam dunia Pertanian Organik.
Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan sebagai agen pengendali hama dan penyakit tanaman

PUPUK ELAKOM

Materi dibawakan oleh Ardin, S.ST terkait pembuatan pupuk kompos melalui penggunaan ela sagu (sisa ekstrak empulur sagu). Goti atau tempat pengolahan ekstrak empulur sagu yang menghasilkan pati sagu basah dalam tumang-tumang sagu banyak dikelola masyarakat tani Waraka, artinya ela sagu dapat diolah menjadi pupuk organik dalam menunjang pemupuan tanaman sayuran dan pangan.

Tahapan pelaksanan pembuatan kompos organik dari ela sagu yaitu : menimbang Ela sagu dan kotoran sapi sesuai dengan perbandingan 1 : 1, menghancurkan gula merah, kemudian dilarutkan dalam air dan selanjutnya dicampur dengan EM4, aduk sampai rata. Mencampur ela sagu, kotoran sapi dan dedak di atas terpal, aduk sampai merata. Kemudian di siram hingga kadar airnya
mencapai 30–40 % atau kalau digenggam campuran tersebut bisa membentuk bola dan terasa lembab ditangan.

PRAKTEK PEMILIHAN ANAKAN SAGU DAN KOMPOS ELA SAGU

PEMBERIAN PAKET BANTUAN BENIH CABAI DAN PUPUK BIOINSEKTISIDA

KETERLIBATAN TOKOH AGAMA

Desa Waraka merupakan salah satu Desa Adat di Maluku yang terus mempertahankan Nilai-Nilai Luhur dan Budaya para pendiri Negeri Waraka khususnya dan masyarakat Maluku pada umumnya. Begitu juga Keberagaman Pemeluk Agama di Negeri Waraka yang tetap lestari. Dalam setiap kegiatan di Desa Waraka senantiasa melibatkan 3 tokoh agama (Kristen Protestan, Ulama, dan Stasi Katolik). Bapak Pendeta, Imam dan Pastor bersama-sama berdoa dalam membuka dan menutup acara.

PEMBERIAN UANG SAKU DAN TRANSPORTASI PESERTA

HIDANGAN PANGAN LOKAL NON BERAS

Hidangan pangan lokal (sagu papeda, patatas, keladi, sayur lokal dan ikan) memberi kenikmatan acara bimtek. Papeda dan Mie sagu menjadi bahan makanan yang sangat di minati artinya tanpa nasi yang disajikan memberi makna yang sangat baik dalam mendukung pengembangan pangan lokal.

PENUTUPAN “SALAM SAGU LENGKET”