BERKOMITMEN “ SATU ANAKAN SAGU BETA TANAM “ DARI WARAKA UNTUK MALUKU DAN INDONESIA

Desa Waraka Kecamatan Teluk Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah sejak tahun 2018 telah memiliki Bioindustri mikro berskala 500 kg yang mengolah Pati Sagu Basah dalam bentuk Tumang Sagu menjadi Tepung, Mie, dan Beras Sagu. Inovasi Teknologi Badan Litbang Pertanian Kementrian Pertanian melalui Balai Besar Pascapanen Bogor dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku dengan dukungan Pemerintah Daerah Maluku Tengah serta Bapak Raja sekaligus Kepala Pemerintahan Desa Waraka (Bapak R.Y.B. Lailossa, SH) bersama Saniri Negeri dan Kelompok Tani di Desa Waraka.

Tepung, Mie, dan Beras Sagu bermerek “SAWA” atau SAGU WARAKA sejak 2018 sampai dengan sekarang tetap eksis di produksi dari Desa Waraka dan telah dipasarkan di swalayan-swalayan di Maluku dan sekitarnya serta secara online juga dapat di akses. Paket SAWA ini juga telah dipasarkan sampai ke wilayah Sorong, Manado, Depok, Jakarta dan wilayah lainnya di Indonesia bahkan sampai negeri Belanda. Sejak awal dalam pendistribusian SAWA ke masyarakat konsumen, SAWA telah memiliki pengakuan kesehatan produk dari BPPOM dan label halal MUI Maluku yang membuat semakin bertambah minat konsumen dalam mengkonsumsi sawa. Tepung Sagu Rp. 30.000/kg, Beras Sagu Rp.30.000/kg, dan Mie Sagu Rp. 22.000 merupakan harga yang dipatok sampai dengan saat ini,
artinya produk sagu ini masih terbilang mahal dan tidak kompetitif dibandingkan dengan beras. Hal ini tidak perlu di bahas terlalu jauh artinya masalah harga, yang penting narasi-narasi konsumsi sagu terus tersampaikan dengan baik manfaat sagu. SAWA memiliki keunggulan sebagai produk organik yang di olah secara higienis dengan sagu yang berkualitas hasil olahan anak bangsa dari Timur Indonesia (Maluku Tengah) dan kita patut berbangga dan tetap optimis prospek sagu kedepannya. Artinya untuk jaman ini, harga beras sagu tidak bisa sebanding atau lebih murah dari beras padi tetapi produk organik sagu dengan kandungan karbohidrat tinggi dan baik untuk kesehatan seperti anti diabet dan stunting. Disamping itu sagu dapat disimpan lebih lama dan aman dari serangga hama gudang penyimpanan, karena kandungan protein dan lemak pada sagu rendah.

Dengan kandungan protein dan lemak yang rendah dari sagu, sehingga sagu tidak “egois” artinya sagu mengajak ikan dan sayur sebagai bahan konsumsi, seperti “Papeda”. Kombinasi sagu+ikan+sayur diyakini memberi cita rasa tersendiri yang telah banyak di konsumsi masyarakat baik dalam maupun luar negeri dalam bentuk-bentuk olahan selain papeda.
Pengelolaan tanaman sagu kedepan penting untuk di lestarikan dan dikembangkan secara lebih luas dalam upaya juga mempertahankan lingkungan artinya memperbaiki lahan-lahan marginal akibat sumberdaya alam hutan dan air yang terus terkikis. Tanaman masa depan sagu dengan banyak kelebihan yaitu : tidak mengenal musim, penghasil pati karbohidrat terbesar, tahan terhadap perubahan iklim, tahan terhadap serangan hama penyakit tanaman, tunas sagu tahan terhadap panas tinggi (kebakaran), tahan terhadap angin kencang, memperbaiki kualitas air sungai, dapat tumbuh di daerah marginal, tanpa replanting, sebagai penangkap dan penyimpan karbon, pati sagu tahan disimpan lama dan penyedia karbohidrat yang handal serta sebagai tanaman social, ekonomi dan budaya. Pentingnya penerapan regulasi pemerintah pusat dan daerah yang terus berpihak pada sagu. Agar sagu dapat kompetitif dengan produk karbohidrat lainnya, harus ditunjang dengan subsidi sarana dan prasarana dari hulu sampai dengan hilir atau budidaya tanaman, perluasan areal sampai dengan pasca panen, pengolahan hasil dan pemasaran.

Sudah saatnya dari sekarang dan masih belum terlambat untuk gerakan perluasan areal saru, kembangkan pasca panen dan pengolahan hasil tanaman sagu serta promosi produk dan peluang pasar terbuka untuk produk sagu. Jajaran Kementerian Pertanian serta Kementerian terkait dari pusat dan daerah terus menunjang program-program terkait sagu yang didukung juga oleh MASSI (Masyarakat Sagu Indonesia) terus menggalakkan pengembangan komoditas sagu di
Indonesia. Dalam acara BIMTEK INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN di Desa Waraka Kecamatan Teluk Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah, Rabu 10 Maret 2021 bersama Bapak Raja sekaligus Kepala Pemerintahan Desa Waraka bersama Saniri Negeri dan Kelompok Tani di Desa Waraka sekitar 150 orang bersama tim Peneliti dan Penyuluh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku (Dr. Ir. Rein E. Senewe, M.Sc, Ir. Marietje Pesireron, MP dan Ardin S.ST), salah satu topic yang di gaungkan adalah Pengelolaan Sagu. Tim memberikan motivasi kepada para peserta yang hadir dalam upaya menjaga kelestarian sagu dengan memulai menanam dan memelihara sagu atau “kalesang akang itu sagu”. artinya dari skarang baik petani milenial sampai yang old (petani tua) harus menanam sagu. Melalui kesempatan ini, Tim BPTP Maluku, Raja Negeri Waraka dan Koordinator berserta Penyuluh Kecamatan Teluk Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah, membuat komitmen bersama peserta yang hadir dengan slogan :
“SATU ANAKAN SAGU BETA TANAM”
Dari Waraka Untuk Maluku dan Indonesia.
Potensi sagu di Maluku yang tersebar mulai pulau Ambon (Desa Rutong, Tulehu, Wai dll), pulau Seram (Seram Barat, Maluku Tengah dan Seram Timur), pulau Buru dan juga sebagian Maluku Tenggara sebagai lumbung pangan lokal semestinya terus di bangunkan dan digaungkan potensi karbohidrat sagu ini. Selain potensi sagu dengan pengahasil karbohidrat tinggi, juga pemanfaatan tanaman sagu seperti ela sagu (ampas sagu) untuk pakan ternak, bahan kompos organik dan serat-seratnya bahan industri. Program perluasan areal sagu menjadi pilihan yang segera dilaksanakan oleh segenap anak negeri Maluku. Marilah mulai menanam anakan sagu dari sekarang. Mari kita bersama lestarikan sagu untuk masa depan anak cucu kita.

Penulis : Dr. Ir. Rein E. Senewe, M.Sc