SISTEM PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT)

Salah satu permasalahan yang dihadapi pembangunan pertanian dewasa ini adalah penurunan kualitas lahan pertanan, akibat degradasi tanah mengakibatkan rendahnya produksi dan produktifitas hasil pertanian. Kesuburan tanah akan semakin menurun akibat penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus dan menyebabkan rusaknya sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Keadaan ini diperparah lagi dengan banyaknya petani yang menggunakan pupuk kimia secara berkelanjutan. Olehkarena itu, diperlukan suatu usaha untuk memenuhi kesejahteraan masyarakat petani tanpa harus mengurangi kualitas lahan pertanian.

Pupuk kimia adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia anorganik berkadar hara tinggi.  Penggunaan pupuk kimia bisa menimbulkan dampak yang justru merusak kesuburan tanah itu sendiri dan bukan menjadikannya subur.

Saat ini memang petani masih susah untuk menggunakan 100% pupuk organik karena ketergantungan petani masih besar terhadap pupuk kimia semacam Urea, Za, KCI (NPK). Permasalahan ini dihadapi juga oleh para petani di Kabupaten Seram Bagian Barat provinsi Maluku tepatnya pada saat pelaksanaan  Bimtek Inovasi Teknologi Pertanian yang merupakan salah satu Tupoksi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku dalam mempercepat hilirisasi inovasi teknologi ke masyarakat tani melalui kegiatan penyampaian hasil-hasil pengkajian, serta diskusi yang di laksanakan Di Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, tanggal 17 Maret 2021.

Pada kegiatan Bimtek tersebut pemaparan materi tentang sistem Pengendalian hama terpadu sangat direspon baik oleh peserta Bimtek karena pada umumya lahan pertanian yang ada diwilayah Kabupaten Seram Bagian Barat khususnya kecamatan Kairatu dan Kairatu Barat ketergantungan terhadap penggunaan pupuk dan Pestisida Kimia sangat tinggin. Sistim pengendalian hama terbaru (PHT) adalah suatu konsep atau cara berpikir dalam upaya pengendalian populasi, atau tingkat serangan OPT dengan menerapkan berbagai teknik pengendalian, yang dipadukan dalam satu kesatuan untuk mencegah kerusakan tanaman dan timbulnya kerugian secara ekonomis, serta mencegah kerusakan lingkungan dan ekosistem. Dengan kata lain, pengendalian hama terpadu adalah pengendalian hama dan penyakit tanaman, dengan pendekatan ekologi yang bersifat multi-disiplin untuk mengelola populasi hama dan penyakit dengan menerapkan berbagai teknik pengendalian yang kompatibel/sesuai. Karena PHT merupakan suatu sistem pengendalian yang menggunakan pendekatan ekologi, maka pemahaman tentang biologi dan ekologi hama dan penyakit menjadi sangat penting.

Prinsip Dasar Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Sistem pengendalian hama terpadu (PHT) memiliki 4 prinsip dasar, yang mencerminkan konsep pengendalian hama dan penyakit yang berwawasan lingkungan, serta mendorong penerapan PHT secara nasional, untuk pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Empat prinsip dasar dalam penerapan pht tersebut adalah sebagai berikut :

  1.  Budidaya Tanaman Sehat
  2. Pemanfaatan Musuh Alami
  3. Pengamatan Dan Pemantauan Rutin
  4. Petani Sebagai Ahli PHT

Ciri-Ciri Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Konsep pengendalian hama dapat dikatakan sebagai sistem PHT jika mencerminkan konsep pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan, dengan ciri-ciri sebagai berikut;

  1. Penerapan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) dilakukan secara bersistem, terpadu  dan terkoordinasi dengan baik,
  2. Sasarannya adalah produksi dan ekonomi tercapai tanpa merusak lingkungan hidup dan aman bagi kesehatan manusia,
  3. Mempertahankan produksi dan mengedepankan kualitas produk pertanian,
  4. Mempertahankan populasi hama atau tingkat serangan hama dibawah ambang ekonomi.
  5. Mengurangi dan membatasi penggunaan pestisida kimia,
  6. Penggunaan pestisida kimia merupakan alternatif terakhir apabila teknik pengendalian yang ramah lingkungan tidak mampu mengatasi.

Komponen Penting Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Terdapat 7 komponen dalam penerapan pengendalian hama terpadu (pht), yaitu sebagai berikut ;

1). Pengendalian Secara Fisik

Pengendalian hama secara fisik merupakan upaya atau usaha dalam memanfaatkan atau mengubah faktor lingkungan fisik sehingga dapat menurunkan populasi hama dan penyakit. Tindakan pengendalian hama secara fisik dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu ; pemanasan, pembakaran, pendinginan, pembasahan, pengeringan, lampu perangkap, radiasi sinar infra merah, gelombang suara dan penghalang/pagar/barier.

).  Pengendalian Secara Mekanik

Pengendalian hama dan penyakit secara mekanik yaitu pengendalian yang dilakukan secara manual oleh manusia. Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, membutuhkan tenaga kerja yang banyak dan waktu yang lama, efektifitas dan efesiensinya rendah, tetapi tidak berpengaruh negatif terhadap lingkungan. beberapa contoh tindakan secara mekanik dalam pengendalian hama antara lain sebagai berikut :

a).  Pengumpulan hama dan telurnya menggunakan tangan,

b). Rogesan, yaitu pemotongan pucuk tebu yang terserang penggerek  pucuk tebu (schirpophaga nivella),

c). Memangkas cabang, ranting atau bagian tanaman lainnya yang terserang hama atau penyakit,

d). Rampasan, yaitu pengumpulan seluruh buah ketika terjadi serangan berat penggerek buah kopi (stephanoderes hampei),

e). Gropyokan, yaitu perburuan hama tikus disuatu daerah yang luas secara serentak,

f).  Pemasangan perangkap hama, seperti pemasangan perangkap kuning, feromon sex

g). Pembungkusan buah : Buah manga, jambu, papaya, dll.

3).  Pengendalian Kultur Teknik

Pengendalian hama dan penyakit secara kultur teknik yaitu pengendalian hama dan penyakit melalui sistem atau cara dalam bercocok tanam. Beberapa tindakan dalam cara bercocok tanam yang dapat mengurangi atau menekan populasi dan serangan hama antara lain sebagai berikut ;

a). Mengurangi kesesuaian ekosistem hama dengan melakukan sanitasi, modifikasi inang, pengelolaan air, dan pengolahan lahan,

b). Mengganggu kontinuitas penyediaan keperluan hidup hama, yaitu dilakukan dengan cara pergiliran tanaman, pemberoan dan penanaman serempak pada suatu wilayah yang luas,

c). Pengalihan populasi hama menjauhi pertanaman, misalnya dengan menanam tanaman perangkap,

d). Pengurangan dampak kerusakan oleh hama dengan cara mengubah toleransi inang.

4). Pengendalian Dengan Varietas Tahan

Yaitu mengurangi atau menekan populasi hama, serangan dan tingkat kerusakan tanaman dengan menanam varietas yang tahan hama ataupun penyakit. Teknik ini sudak sejak lama diterapkan oleh petani. Keuntungan teknik ini adalah tidak membutuhkan biaya yang mahal, efektif dan aman bagi lingkungan.

Akan tetapi pengendalian dengan varietas tahan juga memiliki kelemahan dan kekurangan, yaitu harga benih/bibit yang mahal. Jika ditanam dalam jangka waktu yang panjang, sifat ketahanannya patah.

5). Pengendalian Secara Hayati

Pengendalian secara hayati adalah pengendalian hama atau penyakit dengan memanfaatkan agens hayati (musuh alami) yaitu predator, parasitoid, maupun patogen hama. Contohnya adalah sebagai berikut ;

a). Predator (binatang yang ukuran tubuhnya lebih besar sebagai pemangsa yang memakan binatang yang lebih kecil sebagai mangsa) ; contohnya memanfaatkan ular sebagai predator hama tikus atau kumbang coccinelid sebagai pemangsa kutu daun.

b). Parasitoid (binatang yang hidup diatas atau didalam tubuh binatang lain yang lebih besar yang merupakan inangnya) ; contoh trichoderma sp, sebagai parasit telur penggerek batang padi.

c).  Patogen hama (mikroorganisme penyebab penyakit organisme hama), organisme tersebut meliputi nematoda, protozoa, rikettsia, bakteri atau virus ; contoh paecilomyces sp. jamur patogen telur nematoda puru akar.

6). Pengendalian Dengan Peraturan / Regulasi / Karantina

Pengendalian dengan peraturan perundangan yaitu pencegahan penyebaran / perpindahan dan penularan organisme pengganggu tanaman melalui kebijakan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah. Dasar hukum pencegahan dengan peraturan adalah sebagai berikut ;

1. uu no. 16 th 1992 : karantina hewan, ikan dan tumbuhan

2. pp no. 6 th 1995 : perlindungan tanaman

3. pp no. 14 th 2000 : karantina tumbuhan

contoh pengendalian hama dengan peraturan adalah pelarangan pengiriman benih kentang dari batu, malang ke daerah lain yang belum terserang nematoda sista kentang (globodera rostochiensis).

7). Pengendalian Secara Kimiawi Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara kimiawi menggunakan pestisida sintetis kimia adalah alternatif terakhir apabila cara-cara pengendalian yang lain tidak mampu mengatasi peningkatan populasi hama yang telah melampaui ambang kendali. Tujuan penggunaan pestisida merupakan koreksi untuk menurunkan populasi hama atau penyakit sampai pada batas keseimbangan. penggunaan pestisida juga harus tepat sasaran, tepat dosis dan tepat waktu.

Penulis : Utoyo, SST